Malang, 29 September 2024 – Sebuah gebrakan baru dalam dunia pendidikan dan kesehatan anak- anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) sedang dikembangkan oleh tim peneliti dari Departemen pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Malang (UM). Penelitian ini bertujuan untuk membantu anak-anak dengan ASD dalam mengembangkan kemampuan mereka mengekspresikan emosi melalui metode berbasis teknologi.
Menurut Dr. Simon Baron-Cohen, seorang ahli dalam bidang autisme dari University of Cambridge, “Anak-anak dengan ASD memiliki tantangan dalam mengenali dan memahami emosi, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Hal ini sering kali disebabkan oleh keterbatasan dalam membaca isyarat sosial dan emosi yang ditunjukkan melalui ekspresi wajah, intonasi suara, atau bahasa tubuh.”
Anak-anak dengan autisme mungkin merasa sulit untuk mengenali perasaan seperti kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, atau ketakutan, baik dalam diri mereka sendiri maupun orang lain. Keterbatasan ini dapat berdampak pada interaksi sosial mereka, karena mereka mungkin kesulitan merespons secara tepat terhadap emosi yang dirasakan oleh orang di sekitar mereka. Latihan atau terapi yang terfokus pada pengenalan dan peniruan ekspresi emosi, seperti penggunaan teknologi berbasis visual atau metode intervensi khusus, dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan ini.
Dalam penelitian ini, tim peneliti menggunakan sebuah aplikasi inovatif bernama Emotion Selfie. Aplikasi ini didesain khusus untuk memfasilitasi anak-anak ASD dalam memahami dan meniru berbagai ekspresi emosi dasar seperti senang, sedih, marah, dan takut. Penelitian ini menjadi bagian dari upaya Departemen PLB FIP UM untuk meningkatkan kualitas kehidupan anak-anak dengan kebutuhan khusus, serta memberikan dampak positif pada aspek sosial dan komunikasi mereka.
Penelitian ini telah berlangsung selama satu minggu di sekolah luar biasa (SLB) Lab Autis UM di Kota Malang. Dosen pembimbing tim peneliti, Bapak Ahsan Romadlon Junaidi, menjelaskan bahwa metode berbasis visual yang dihadirkan dalam aplikasi tersebut mampu membantu anak-anak ASD dalam mengenali emosi dengan lebih baik.
“Anak-anak dengan ASD seringkali mengalami kesulitan dalam memahami dan mengekspresikan emosi. Ini menjadi tantangan besar dalam interaksi sosial mereka. Melalui aplikasi Emotion Selfie, mereka belajar meniru ekspresi wajah yang ditampilkan pada layar, kemudian mencoba menirukannya secara langsung,” ungkap Bapak Ahsan Romadlon Junaidi saat di sela-sela diskusi dengan tim peneliti.
Bapak Ahsan juga menambahkan bahwa aplikasi ini menggunakan kombinasi gambar dan video contoh yang ditambahkan situasi riil untuk memperjelas perbedaan antara berbagai ekspresi emosi. Melalui pendekatan ini, anak-anak dapat lebih mudah memahami perbedaan antara ekspresi wajah senang, sedih, marah, dan takut, yang seringkali sulit diinterpretasikan oleh mereka. Selain itu, aplikasi ini juga memungkinkan orang tua dan guru untuk memonitor perkembangan emosi anak selama program berlangsung.
Selama penelitian, tim peneliti telah melakukan uji coba terhadap delapan anak dengan ASD. Benar saja, saat menggunakan aplikasinya sebagian besar anak masih mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosinya. Padahal dalam aplikasi tersebut terdapat video contoh model yang memeragakan ekspresi emosi, bahkan ditampilkan situasi yang menggambarkan ekspresi emosi tersebut. Nyatanya, banyak anak yang masih belum mampu meengekspresikan emosi mereka.
Setelah diberi jarak dua hari setelah uji coba pertama, ditemukan bahwa hasilnya hampir 90% dari anak- anak yang menggunakan aplikasi Emotion Selfie menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam pengenalan dan ekspresi emosi. Melalui program pelatihan yang terstruktur, anak-anak ini didorong untuk melatih kemampuan mereka dalam memahami dan meniru ekspresi emosi, yang nantinya diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Meskipun hasil penelitian ini sangat positif, Bapak Ahsan menegaskan bahwa masih banyak yang harus dieksplorasi. Beliau menyatakan bahwa pengembangan aplikasi ini tidak akan berhenti di sini. Tim penelitiannya berencana untuk memperluas penelitian ini ke SLB lain yang ada di Malang dan menguji aplikasi Emotion Selfie pada populasi anak ASD yang lebih luas.
“Kami berencana untuk mengembangkan fitur-fitur baru dalam aplikasi ini, termasuk pelatihan emosi yang lebih kompleks seperti rasa empati dan kecemasan. Selain itu, kami juga ingin mengeksplorasi kemungkinan untuk mengintegrasikan teknologi pengenalan suara, sehingga anak-anak dapat belajar mengekspresikan perasaan mereka tidak hanya melalui wajah, tetapi juga melalui kata-kata,” tambah anggota tim penelitiannya.
Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi acuan bagi sekolah-sekolah luar biasa di seluruh Indonesia dalam menerapkan metode berbasis teknologi untuk pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan dukungan yang berkelanjutan dan perbaikan yang lebih signifikan, aplikasi Emotion Selfie dapat menjadi solusi bagi ribuan anak dengan ASD di Indonesia dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosional mereka.